LEGENDARIS LAMPU COLOK TRADISI
MASYARAKAT BENGKALIS
part 1.
Tradisi lampu colok adalah tradisi turun-temurun masyarakat Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau yang dilakukan setiap malam ke-27 Ramadhan. Tradisi ini memiliki nilai-nilai yang mendalam, seperti gotong royong, kebersamaan, dan kesenian. Tradisi lampu colok bermula dari munculnya keinginan masyarakat Melayu untuk memberikan penerangan pada masyarakat yang hendak ke Masjid di bulan Ramadhan dan sebagai penerangan dari kegelapaan di daerah pedesaaan. Lampu colok dibuat menggunakan bambu yang dibentuk menjadi obor kemudian diletakkan di depan pintu rumah agar anak-anak yang hendak pergi mengaji dan belajar tidak merasa takut dalam kegelapan karena belum adanya listrik yang masuk kedesa, selain itu adanya mitos yang dipercaya masayarakat dulu bahwa pada bulan Ramdahan roh para leluhur akan pulang kerumah oleh karenanya rumah harus diterangi dengan lampu colok (Sari, 2015:5).Dalam bahasa Melayu, kata “colok” mengacu pada penerangan yang berasal dari kata “suluh”. Masyarakat Melayu menyebut lampu ini dengan sebutan pelite atau pelito, yang merupakan lampu yang terbuat dari kaleng bekas minuman, memiliki sumbu yang dipasang, dan menggunakan bahan bakar minyak tanah atau solar. Lampu tersebut kemudian disusun menjadi miniatur mesjid atau hiasan kaligrafi sebelum dinyalakan. Tradisi Lampu Colok juga diadakan secara bersamaan pada malam menjelang hari ke-27 Ramadhan atau malam 7 likur, yang merupakan malam menyambut hari kemenangan Idul Fitri (Humairah et al., 2023).
Lampu ini akan dipasang setiap malam ke-27 di bulan Ramadhan dan berakhir ketika malam takbiran. lampu colok akan bersinar di Bengkalis selama tiga hari. Lokasi pemasangan lampu colok biasanya ada di gerbang desa maupun halaman atau lapangan yang luas. Satu desa di Bengkalis bahkan bisa membuat tiga hingga empat lampu colok. "Lampu Colok Bengkalis memiliki makna nilai gotong royong, kebersamaan antar masyarakat, dan nilai seni untuk memberikan penerangan di malam 27 Ramadhan,". Nilai gotong royong ini terlihat dari usaha masyarakat membangun lampu colok bersama-sama. Satu bangunan lampu colok di Bengkalis bisa memiliki luas hingga 5-6 meter dengan tinggi belasan meter. Setidaknya butuh waktu satu bulan untuk menyelesaikan rangkaian lampu yang umumnya berbentuk masjid dan miniature lainnya, tradisi lampu colok ini awalnya hanya untuk penerangan. Sekarang,pembuatannya juga dilakukan dengan tujuan kesenian. Bahkan lampu colok juga semakin berkembang menjadi berbentuk tiga dimensi.
Nilai- nilai yang terkandung dari festival lampu colok tertera dalam pesan Tunjuk Ajar Melayu Riau, yaitu Persatuan dan Kesatuan, Gotong Royong dan Tenggang Rasa (Efendi, 71-87)
1. Sikap berkasih sayang, saling mencintai, dan bersimpati merupakan akhlak utama Islam dan merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang.
adat hidup Melayu beriman
sesame makhluk ia berkawan
tolong menolong ia utamakan
silang sengketa ia jauhkan aniaya menganiaya ia pantangkan
iri mengiri ia elakkan
dendan mendendam ia haramkan
Komentar
Posting Komentar